ahlan wa sahlan

Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Kabar Fakultas » NILAI TASAWUF DALAM AL-QURAN DAN HADIS: RESTORASI PEMIKIRAN DAKWAH

NILAI TASAWUF DALAM AL-QURAN DAN HADIS: RESTORASI PEMIKIRAN DAKWAH

(390 Views) Mei 19, 2017 11:58 am | Published by | No comment

NILAI TASAWUF DALAM AL-QURAN DAN HADIS: RESTORASI PEMIKIRAN DAKWAH

Padangsidimpuan, fdik—– Armyn Hasibuan menyebutkan penting untuk menyandarkan ajaran tasawuf kepada al-Quran dan Hadis, terutama dalam pelaksanaan kegiatan dakwah rahmatan lil alamin.

“Adanya dogma yang berbeda di antara syech tariqat, yang kemudian pemikiran mursyid itu sudah menjadi budaya di kalangan sufi untuk mentaati dan mematuhi syech, namun dalam pengamatan penulis, masih banyak ajaran tasawuf itu belum menyandarkan kepada al-Quran dan Sunnah rasul,” ujar Dosen Ilmu Tasawuf FDIK itu, dalam diskusi ilmiah, Jumat (19/5) di Laboratorium Dakwah.

Restorasi pemikiran ini, kata Armyn, dilandasi pemikiran yang lemah terhadap ayat-ayat al-Quran dan Hadis. “Al-Quran itu ada yang muhkamat dan mutasyabihat, dalam pengamatan penulis, para pengamal tasawuf sering tergelincir pada ayat-ayat yang mutasyabihat,” sebutnya.

Ditambahkan salah seorang peserta diskusi, Icol Dianto, menyebutkan bahwa dalam sejarah Islam, tasawuf memiliki peran penting dalam pengembangan agama Islam. Tasawuf yang muncul dalam bentuk institusi keagamaan, seperti tariqat, telah memiliki andil dalam menyebarkan Islam.

Tanpa disadari, satu syech tasawuf saja, memiliki murid dari berbagai daerah dan bahkan ada muridnya dari negara yang berbeda. Hal ini memunculkan jaringan syech tasawuf dan penganutnya di berbagai belahan di dunia ini.

“Institusi tasawuf, memang mengembangkan Islam dengan corak tasawuf, yang kemudian telah berperan besar. Pertanyaan sekarang, jika kita ingin melakukan restorasi pemikiran dakwah, maka apakah perlu dai itu kembali berwujud dalam sebuah institusi tasawuf itu?” terangnya.

Diskusi ini menjadi menarik, karena selama ini kalangan akademisi dan masyarakat umum mengetahui bahwa islam dikembangkan melalui ajaran tasawuf, akan tetapi sedikit sekali yang mengkaji bagaimana tasawuf itu berperan besar dalam mengembangkan agama ini.

“Para akademisi dan praktisi dakwah mengetahui peran tasawuf ini, namun pada kebanyakan meraka lari dari tasawuf. Bisa dimaklumi, barangkali mereka berpikir bahwa tasawuf bukan spesifikasi keilmuannya,” pungkasnya. (admin).

 

Categorised in:

No comment for NILAI TASAWUF DALAM AL-QURAN DAN HADIS: RESTORASI PEMIKIRAN DAKWAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *